NUTRI NEWS #2 : Indeks Massa Tubuh Tak Bisa Jadi Ukuran Kesehatan
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebuah penelitian
terbaru dari University of California, Los Angeles (UCLA) menemukan bahwa 54
juta orang Amerika yang dianggap mengalami obesitas atau kelebihan berat badan melalui
hitungan Body Mass Index (BMI) atau Indeks Massa Tubuh (IMT), sebenarnya dalam
kondisi yang sehat. Untuk mengetahui apakah IMT memiliki korelasi dengan
tanda-tanda kesehatan, tim peneliti dari UCLA menganalisa data dari 40.420
individu yang berpartisipasi dalam survei nasional tentang pemeriksaan
kesehatan dan nutrisi sepanjang tahun 2005-2012. Dari data itu mereka mengamati
tekanan darah, kadar trigliserida, kolesterol, glukosa, resistensi insulin dan
data protein C-reaktif yang bisa menjadi penanda penyakit jantung dan
peradangan. Hasilnya, mereka menemukan sebanyak 47,4 persen orang yang
kelebihan berat badan dan 29 persen orang yang obesitas, dari sudut pandang
metabolisme, ternyata cukup sehat. Di sisi lain, lebih dari 30 persen individu
dengan bobot yang mempunyai angka IMT normal malah memiliki metabolisme yang
tidak sehat.
"Saya pikir, alasan orang masih
mengandalkan IMT adalah karena mudah. Jika Anda tahu berat badan seseorang dan
Anda tahu tinggi seseorang, kemudian akan muncul nilai ajaib ini, "kata
ketua peneliti A. Janet Tomiyama, yang juga merupakan psikolog di UCLA, seperti
dikutip dari Los Angeles Times.
Tomiyama dan timnya menilai fokus pada penanda
kesehatan yang lebih baik seperti tekanan darah menjadi cara yang baik untuk
mengukur kesehatan. Mengukur Indeks Massa Tubuh (IMT) bisa dilakukan dengan
cara membagi berat tubuh dalam ukuran kilogram dengan kuadrat tinggi badan
dalam satuan meter. Menurut Pusat Pengendali dan
Pencegah Penyakit, IMT yang sehat berkisar antara 18,5-24,9. Sementara yang
tergolong kelebihan berat badan memiliki IMT 25-29,9. Sedangkan orang yang
mengalami obesitas memiliki IMT 30 atau lebih. Namun seiring berjalannya
waktu, para peneliti menduga bahwa yang memiliki nilai sehat dilihat dari
IMT-nya ternyata sangat tidak sehat. Sebaliknya, orang yang memiliki nilai IMT
lebih tinggi malah mempunyai bentuk tubuh yang sangat baik.
"Kami pikir IMT hanya indikator yang
benar-benar kasar dan mengerikan tentang kesehatan seseorang. Masyarakat
terbiasa mendengar 'obesitas,' dan mereka keliru melihatnya sebagai hukuman
mati. Padahal obesitas hanyalah ukuran berdasarkan IMT," ujar Tomiyama
"Para pembuat kebijakan harus mempertimbangkan konsekuensi yang tidak
diinginkan dari hanya mengandalkan IMT dan peneliti harus berusaha untuk
menciptakan alat diagnostik yang berhubungan dengan berat badan dan kesehatan
kardiometabolik," tulis para peneliti dalam penelitian yang diterbitkan
pada International Journal of Obesity. (meg).
Sumber :
DEPARTEMEN KESEJAHTERAAN MAHASISWA
HIMPUNAN MAHASISWA PROGRAM STUDI GIZI
UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA
HIMPUNAN MAHASISWA PROGRAM STUDI GIZI
UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA


Komentar
Posting Komentar